[ CASE DIARY ] Pembuatan Gigit Tiruan Sebagai Lepasan Secara Digital untuk Pertama Kalinya

Note: Case Diary adalah section didalam Dental Cognition yang akan membahas pengalaman penulis didalam mengerjakan suatu kasus, baik secara klinis maupun proses digitalisasi restorasi. Tujuan section ini adalah sebagai sarana berbagi pengalaman, edukasi, pembelajaran bersama, dan evaluasi terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. Saran kritis dan tanggapan bermakna akan sangat diharapkan. Mari berdiskusi bersama dan let's grow together!

Gigi tiruan adalah restorasi yang sangat umum direkomendasikan kepada pasien dengan keluhan kehilangan gigi, baik sebagian ataupun seluruhnya. Sebelum saya mulai menyelami dunia desain-mendesain ini, saya selalu berpikir bahwa langkah paling penting dalam perawatan ini adalah teknik mencetak rahang pasien saja. Anatomi yang tercetak sempurna dapat memberikan kemudahan kepada laboratorium didalam membuat gigi tiruan pasien saya. Tidak pernah terpikirkan didalam benak saya, bahwa saya akan menyelami dunia laboratorium juga (Tentunya tidak saya sesali, tapi cukup mengagetkan jika saya pikirkan kembali). Dan disinilah saya berada sekarang. Saya menjadi sadar bahwa pekerjaan tekniker gigi adalah hal yang sangat-sangat kompleks, baik dari segi teknikal , estetika, hingga ekspektasi hasil akhir. Semua teknologi yang berkembang pesat juga memaksa ktia semua untuk terus berkembang dan belajar. Sungguh, bukanlah pekerjaan yang mudah. Respect terhadap semua tekniker gigi diluar sana, kalian luar biasa! Dan inilah case diary saya tentang kasus removeable denture pertama saya.

Siang itu, memang bukanlah hari yang sibuk di lab. Saya masih bisa menengguk ice americano saya dengan nikmat. Namun semua itu berubah dikala notifikasi email saya berdering. Pesan terbarunya berisikan file STL (Stereolithography: Jenis file yang didapatkan setelah dilakukan proses Scan didalam mulut pasien) dari salah satu pasien rekan sejawat, seperti pada gambar 1. Pesan dari rekan sejawat saya adalah ingin dibuatkan gigi tiruan lepasan sebagaian (GTSL) untuk menggantikan satu elemen gigi 16. Saat itu, saya langsung bingung harus bagaimana, sebab belum pernah membuat secara nyata gigi tiruan lepasan dengan teknologi digital saat ini. Namun saya merasakan bahwa hal ini adalah kesempatan berharga bagi saya untuk dapat eksplor lebih jauh mengenai kapabilitas dari teknologi ini.

Gambar 1. File STL awal. 
(Dokumen pribadi penulis, untuk pembelajaran dan evaluasi)

Saya sangat bersyukur untuk bisa menjalanin hidup di era modern seperti sekarang, dimana semua hal dapat dipelajari secara online dengan bermodalkan: keinginan, waktu dan internet. Saya melakukan deep searching mengenai hal ini dan ternyata tidak sulit untuk menemukan orang-orang yang senang sharing ilmunya di internet. Hal ini membuat saya terinspirasi untuk bisa membagikan ilmu yang saya miliki kepada sesama, guna kemajuan bersama. Setelah saya memahaminya, saya pun mencoba mendesain dari gigi tiruan ini. Izinkan saya mencoba menggambarkannya dengan kata-kata dalam satu paragraf mengenai tahapan pembuatannya.

Secara konvensional, proses pembuatan GTSL akrilik adalah dengan menggunakan lilin baseplate yang dibentuk pada permukaan model, kemudian menyusun gigi aritifsial diatasnya, lalu dilakukan tahapan flasking, wax-outpacking akrilik, deflasking, finishing dan akhirnya polishing. Tahapan yang sebenarnya cukup simpel jika dibicarakan, namun sangat kompleks dalam pengerjaannya. Semua tahapan ini bisa diubah hanya menjadi 3 step didalam proses digital. Tahap pertama adalah desain secara digital, baik dari base dan gigi aritfisialnya (Gambar 2 dan 3). Tahap kedua adalah manufaktur dari desain menggunakan mesin milling. Pada tahap ini akan dilakukan proses milling terhadap base akriliknya dan gigi tiruannya menggunakan bahan PMMA. Tahap ketiga adalah finishing and polishing. Secara tahapan, memang proses digital sangat mempermudah, namun diperlukan investasi mesin yang cukup dalam.

Gambar 2. Tampilan desain dari base akrilik GTSL.
(Dokumen pribadi penulis, untuk pembelajaran dan evaluasi)

Gambar 3. Tampilan desain dari base dan gigi artifisial akrilik GTSL.
(Dokumen pribadi penulis, untuk pembelajaran dan evaluasi)

Setelah saya coba pelajari dan praktekkan, memang tidak sekompleks itu. Hal ini juga dikarenakan tingkat kesulitan kasusnya yang hanya 1 unit GTSL. Namun setidaknya, saya belajar hal baru dari kasus ini dan ilmu ini dapat terus saya kembangkan untuk kasus-kasus selanjutnya. Soft skill yang saya pelajari dari kasus ini pun sangat banyak, khususnya mengenai kegigihan, keinginan untuk terus belajar, dan keberanian dalam mempelajari hal baru. Saya juga menyadari masih bahyaknya kekurangan didalam pengerjaan kasus ini, dan tentunya saya akan terus melakukan improvement didalam keilmuan ini. Shout out kepada rekan sejawat saya yang telah mempercayakan kasusnya kepada saya, juga kepada para orang baik diluar sana yang telah mau berbagi ilmunya. Semoga sharing kasus ini dapat bermanfaat bagi kita semua!

Sampai berjumpa di Case Diary selanjutnya!

Salam hangat,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[ SOAL LATIHAN KEDOKTERAN GIGI ]

[ UKOMNAS PPDG / UKMP2DG ] Bedah Mulut (BM)

[ UKOMNAS PPDG / UKMP2DG ] Ilmu Penyakit Mulut (IPM)