[ CASE DIARY ] Manufaktur Screw Retained Implant Crown dari Pre-Conditioned Abutment

Note: Case Diary adalah section didalam Dental Cognition yang akan membahas pengalaman penulis didalam mengerjakan suatu kasus, baik secara klinis maupun proses digitalisasi restorasi. Tujuan section ini adalah sebagai sarana berbagi pengalaman, edukasi, pembelajaran bersama, dan evaluasi terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. Saran kritis dan tanggapan bermakna akan sangat diharapkan. Mari berdiskusi bersama dan let's grow together!

22 September 2025, siang itu saya mendapat case dari rekan sejawat untuk membuat restorasi implant crown gigi 46 secara screw retained. Rekan sejawat telah memasang implant dengan sangat baik dan kokoh. Arah angulasi dan prognosis sangatlah baik. Tantangan muncul ketika saya mengetahui bahwa abutment yang digunakan telah dimodifikasi sebelumnya (Pre-conditioned abutment) untuk menyesuaikan ketinggian gigitan pasien, sehingga saya harus menyesuaikan bentuk restorasi dengan abutment yang digunakan rekan sejawat tersebut. Pasien telah dilakukan scan intraoral untuk mendapat file STL (Stereolithography: Jenis file model yang didapatkan setelah dilakukan proses Scan didalam mulut pasien). Berikut untuk gambaran file STL-nya.

Gambar 1. File STL pasien dengan kondisi pre-conditioned abutment terpasang.

Menurut saya, kesulitan pada kasus ini adalah menentukan letak screw hole yang tepat pada pre-conditioned abutment yang telah disediakan. Jika penempatan screw hole tidak sesuai, maka akan banyak adjustment yang perlu dilakukan disaat proses fitting. Pada saat itu, saya masih termasuk baru dengan dunia digitalisasi ini, sehingga kasus seperti ini sangatlah menantang sekaligus membuat engine biologis saya bekerja dengan kapasitas maksimal. 

Setelah saya pelajari, hal penting didalam desain case seperti ini adalah pemilihan opsi aplikasi Exocad (Aplikasi yang saya gunakan untuk menrancang desain restorasi gigi) dan proses mengarahkan insertion path didalam aplikasi desainnya. Berikut adalah gambaran opsi aplikasi Exocad yang harus dipilih dan tahapan pengarahan insertion path pada aplikasi Exocad.

Gambar 2. Opsi Exocad yang dipilih adalah "implant based screw retained" dan "don't use scan body".

Gambar 3. Tahapan didalam Exocad untuk menentukan insertion path restorasi terhadap abutment.


Pada Gambar 2 terlihat adanya opsi-opsi yang dapat dipilih untuk menentukan jenis restorasi yang akan digunakan pada kasus yang dikerjakan. Hal penting yang menentukan proses desain screw retained dimulai dari pre-conditioned abutment atau scan body terletak pada opsi "scan body" di area "additional scan". Pada opsi itu, kita bisa memilih apakah suatu scan telah memiliki scan body didalamnya atau belum ada, atau bahkan tidak menggunakannya sama sekali. Pada kasus ini, kita memilih yang tidak menggunakan scan body. Sebagai konteks, scan body adalah alat yang dipasang pada screw implant didalam mulut pasien, untuk kemudian di-scan dan dilakukan desain sesuai dengan jenis merek implant yang digunakan. Ukuran abutment dapat dipilih dengan scan body secara digital. 

Setelah mengetahui poin penting ini, maka proses desain berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti. Gambar 4 memperlihatkan hasil final dari desain restorasi kasus ini. Dapat diamati bahwa anatomi gigi tidak 100% persen terlihat tegas. Hal ini dikarenakan jarak gigit antara abutment dengan gigi antagonis yang berdekatan, serta pertimbangan minimal thickness dari desain. Namun secara keseluruhan, desain restorasi masih acceptable dan fungsional, sehingga proses manufaktur pun dilakukan. Proses manufaktur dilakukan menggunakan mesin milling dry dan bahan restorasi zirconia. Setelah restorasi terbentuk (Gambar 5), selanjutnya restorasi akan digabungkan dengan pre-conditioned abutment sebelumnya sehingga terbentuklah satu restorasi utuh yang siap diinsersi (Gambar 6).

Gambar 4. Hasil desain final dari kasus kali ini.

Gambar 5. Hasil milling implant crown.

Gambar 6. Hasil final restorasi setelah digabungkan dengan abutment.

Restorasi berhasil ter-deliver dengan baik pada pasien dan pasien pun bisa mengunyah kembali dengan lebih nyaman. Tentunya saya menyadari restorasi ini masih banyak kekurangan dan akan selalu ada ruang untuk berkembang, namun saya percaya bahwa saya telah memberikan yang terbaik didalam pengerjaan restorasi ini. Semoga "gigi barunya" bisa bertahan lama dalam jangka panjang, juga semoga sharing kasus kali ini dapat bermanfaat bagi pembaca semua!

Sampai berjumpa di Case Diary selanjutnya!

Salam hangat,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[ SOAL LATIHAN KEDOKTERAN GIGI ]

[ UKOMNAS PPDG / UKMP2DG ] Bedah Mulut (BM)

[ UKOMNAS PPDG / UKMP2DG ] Ilmu Penyakit Mulut (IPM)