[ CASE DIARY ] Desain dan Manufaktur dari "Implant Supported Bridge" dengan Angulasi yang Berbeda
Note: Case Diary adalah section didalam Dental Cognition yang akan membahas pengalaman penulis didalam mengerjakan suatu kasus, baik secara klinis maupun proses digitalisasi restorasi. Tujuan section ini adalah sebagai sarana berbagi pengalaman, edukasi, pembelajaran bersama, dan evaluasi terhadap pekerjaan yang telah dilakukan. Saran kritis dan tanggapan bermakna akan sangat diharapkan. Mari berdiskusi bersama dan let's grow together!
Sore itu, tanggal 1 Desember 2025, saya mendapat kasus yang cukup unik sekaligus menantang. Rekan sejawat saya merujuk sebuah kasus restorasi bridge 3 unit dengan dua abutment implant (Elemen gigi 45, 46, 47). Implant telah terpasang dengan sangat baik dan kokoh, namun tantangan muncul ketika angulasi dari kedua implant ini berbeda. Sebagai konteks, hal ini memang mungkin dan cukup sering terjadi. Faktor penyebabnya dapat dipengaruhi oleh banyak hal, namun umumnya disebabkan karena ketebalan tulang pasien yang hanya memungkinkan pemasangan pada angulasi tertentu. Rekan saya pun mengirimkan file STL (Stereolithography: Jenis file yang didapatkan setelah dilakukan proses Scan didalam mulut pasien) untuk selanjutnya saya analisa dan lakukan proses desain-manufaktur. Berikut untuk gambaran file STL-nya.
Gambar 1. Tampilan dari sisi bukal / pipi pasien dari file STL.
Terlihat bahwa arah pemasangan implant tidak sejajar.
(Dokumen pribadi penulis, untuk pembelajaran dan evaluasi)
Sebelumnya, saya adalah seorang dokter gigi yang juga mendalami digitalisasi manufaktur restorasi. Dari semua kasus yang sebelumnya telah saya tangani, kasus ini adalah hal baru untuk saya. Otak didalam tempurung saya langsung berputar tidak ada habisnya. Riset pun saya lakukan, baik melalui google, chat GPT, hingga jurnal-jurnal terbaru. Namun pada saat itu, saya belum bisa mendapatkan solusi terhadap kasus ini. Saya ingat betul bahwa pergerumulan itu terus berlanjut hingga pukul 23.30 WIB. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk rehat sejenak.
Selayaknya "anak muda jaman sekarang", hal yang dilakukan untuk rehat bukanlah tidur atau stretching, melainkan doom scrolling di instagram. Ya, ini memang realita yang menyedihkan, namun harus diakui bahwa hal ini perlu dikurangi. Namun hari itu berbeda. Doom scroling kali itu membuahkan pencerahan bagi saya. Saya menonton salah satu konten dari seorang kreator dengan nama akun "lukekahng". Pria itu adalah seorang tekniker profesional dan telah menerima banyak kasus secara interansional. Keahliannya pun sangat terlihat dari semua dokumentasi pekerjaannya. Pada salah satu kontennya, saya mempelajari cara dia dalam menaggulangi permasalahan arah angulasi yang berbeda pada bridge dengan abutment gigi asli. Solusinya adalah memperbaiki arah insersi menggunakan custom abutment atau offset coping.
Gambar 3. Inspirasi restorasi kasus kali ini.
Terlihat adanya penggunaan offset coping (Kanan) pada gigi dengan angulasi yang berbeda.
(Dokumen milik content creator Instagram dengan nama akun @lukekahng)
Setelah mendapat pencerahan, saya pun mencoba menerapkan konsep itu pada desain restorasi kasus ini. Hal pertama yang saya lakukan adalah mendesain offset coping pada abutment gigi 47. Saya berencana untuk menyamakan arah angulasi insersi bridge dengan abutment gigi 45. Dan hasilnya cukup memuaskan. Offset coping ini akan merekat dengan bridge secara cement retained. Sedangkan pada abutment gigi 45, saya tetap mendesainnya secara screw retained, sehingga restorasi ini adalah gabungan antara dua jenis retensi.
Gambar 4. Desain offset coping gigi 47 untuk menyamakan angulasi abutment 45.
(Dokumen pribadi penulis, untuk pembelajaran dan evaluasi)
Setelah menguras setiap sari ide didalam kepala, akhirnya desain restorasi bridge dan offset coping inipun rampung di pukul 02.30 WIB dini hari. Sebenarnya desain ini bisa saja dilanjutkan esok hari, namun terdapat ketakutan akan kekosongan pikiran jika tidak diselesaikan di hari yang sama. Terkadang, saya merasa setiap manusia memiliki tombol on dan off tersendiri, dan ketika tombol on sedang aktif, maka tubuh akan bereaksi untuk terus bekerja selayaknya lokomotif kereta yang berada didalam rel. Tidak bisa berhenti.
Esok harinya, proses manufakturpun dilaksanakan. Prosesnya pun terhalang oleh beberapa tantangan, seperti persediaan sparepart yang diperlukan tidak tersedia, hingga problem dari mesin milling-nya. Namun seperti para Bijak katakan, "Jangan pernah meninggalkan sesuatu yang memiliki potensi besar karena tekanan sesaat". Maka, mari kita perbaiki semuanya dengan kesabaran. Proses manufaktur memakan waktu selama 2 hari hingga akhirnya semua siap dipasang kepada pasien. Bahan yang digunakan untuk restorasi kali ini adalah PMMA (Polymethyl Methacrylate) dengan tujuan untuk menjadikan restorasi bersifat long-term temporary. Hal ini dimaksudkan agar memberikan waktu untuk gusi serta tulang beradaptasi terhadap jenis restorasi ini.
Dan inilah "hasil karya" saya. Mungkin belum yang terbaik, namun saya sadar bahwa saya telah memberikan setiap tetes usaha didalam nadi saya untuk pekerjaan ini.
Gambar 5. Hasil final dari restorasi kasus ini.
Kiri: Offset coping; Kanan: Bridge final.
(Dokumen pribadi penulis, untuk pembelajaran dan evaluasi)
Final boss-nya adalah hari-H pemasangan restorasi. Tanggal 8 Desember 2025. Saya hadir disaat rekan sejawat akan memasangkan restorasi ini. Degup jantung tentunya tidak tertahan. Semua isi pikiran saya hanyalah doa dan harapan bahwa perjuangan pembuatan "karya" ini dapat tereksekusi dengan baik sesuai dengan rencana di desain. Set pemasangan pun disiapkan oleh para perawat. Pasien duduk di dental unit. Dan saya berdiri agak berjauhan dengan dental unit. Bola mata saya hanya tertuju kepada setiap pergerakan tangan rekan saya. Setengah jam pun berlalu dan voila. Semua sistem restorasi ini terpasang didalam mulut pasien sesuai dengan desain yang dikerjakan selama 3 hari itu. Berikut beberapa gambar yang sempat terdokumentasikan untuk arsip pembelajaran saya.
Gambar 6. Hasil restorasi akhir yang telah terpasang didalam mulut pasien.
(Dokumen pribadi penulis, untuk pembelajaran dan evaluasi)
Tentunya, saya kembali menyadari bahwa masih banyak kekurangan didalam restorasi ini. Selalu akan ada ruang untuk terus berkembang kedepannya. Namun usaha terbaik telah diberikan dan hasil telah ter-deliver dengan cukup baik dan rapi. Sekarang, pasien bisa kembali menggigit dengan nyaman menggunakan "gigi barunya". Semoga restorasi ini dapat terus bertahan hingga saatnya diganti dengan restorasi tetap yang jauh lebih kuat.
Banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan didalam mengerjakan kasus ini, khususnya mengenai kerja sama tim, kesabaran, kreatif, dan tidak malu untuk bertanya. Shout out kepada rekan sejawat saya yang telah mempercayakan kasusnya kepada saya, juga kepada para senior saya yang telah mau berbagi tips and trick untuk eksekusi kasus ini. Semoga sharing kasus ini dapat bermanfaat bagi kita semua!
Sampai berjumpa di Case Diary selanjutnya!
Salam hangat,
Komentar
Posting Komentar